#Day1 Mendapatkan Pekerjaan Setelah Sarjana Februari 11, 2026
Malam ini aku ingin menceritakan sedikit pengalaman pencarian kerja dan hari pertama bekerja setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dari sebuah universitas kecil di pojok Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mencari lowongan pekerjaan.
Berawal dari muaknya bekerja menjadi ojek online sejak kuliah, karena pekerjaannya mengharuskan duduk di atas sepeda motor seharian dan dihantam terik matahari maupun deras hujan yang tak pernah bisa ditebak kapan datangnya. Pun sudah setidak-asik itu pekerjaannya, hasil yang dibawa pulang tak pernah bisa stabil. Kadang kalau lagi bagus, pendapatannya bisa 150 ribu lebih. Tapi kalau pas lagi apes sehari bisa aja cuma bawa pulang uang 35 ribu rupiah. Bagaimana tidak muak, aku bekerja bukan karena iseng, melainkan perlu untuk menanggung kebutuhan pokok yang tiba-tiba selalu adaaa aja. Eh, hasilnya tak pasti.
Pekerjaan yang aku cari adalah pekerjaan yang gajinya layak, pekerjaan apapun itu. Layak yang aku maksud adalah minimal memenuhi nominal Upah Minimum Regional yang memang seharusnya harus ditepati oleh setiap perusahaan maupun pengusaha dalam menyejahterakan karyawannya. Kenapa harus mendapatkan pekerjaan yang seperti itu? Ya, memang harus anjai! Kalian tahu atau tidak, apa yang menyebabkan gaji di Jogja selalu rendah? Ya, apalagi kalau bukan karena harga pasar upah mereka memang rendah. Para pengusaha dan perusahaan selama ini telah mendapatkan kesimpulan bahwa masyarakat kota ini memiliki jiwa nerimo (menerima apapun yang terjadi) dan mau menerima upah berapun. What the hell about it all. Kalian akan selalu dinilai orang lain dengan harga yang rendah jika kalian juga tidak menghargai diri kalian sendiri. Menurutku, berprinsip "hanya mau dibayar dengan upah yang sesuai" adalah sebuah cara agar gaji di jogja perlahan ikut naik dan para pengusaha serta perusahaan menjadi lebih menghargai masyarakat Jogja. Semakin sulit perusahaan mendapatkan karyawan yang mau digaji rendah, mereka akan berpikir bahwa memang perlu menaikkan nominal gaji yang ditawarkan ketika membuka lowongan pekerjaan.
Tapi apalah dayaku, paragraf di atas hanya sebuah ide yang rumit. Karena pada dasarnya kita tidak akan mendapatkan uang ketika tidak bekerja, yang mana mau ngga mau ya harus kerja. Tapiiiii, lowongan-lowongan kerja yang ada selalu menawarkan gaji yang ngga manusiawi. Kan anjing juga, bisa apa kita sebagai orang miskin?
Perusahaan budidaya hidroponik.
Setelah berminggu-minggu lamanya aku mencari lowongan pekerjaan melalui facebook, instagram, jobstreet, glints, dan pintarnya, akhirnya aku menemukan satu perusahaan yang kebetulan langsung mempersilakan aku untuk ikut training (yang mana kemungkinan besar nanti setelah training aku langsung mendapatkan kontrak kerja).
Pekerjaan yang aku cari adalah pekerjaan yang gajinya layak, pekerjaan apapun itu. Layak yang aku maksud adalah minimal memenuhi nominal Upah Minimum Regional yang memang seharusnya harus ditepati oleh setiap perusahaan maupun pengusaha dalam menyejahterakan karyawannya. Kenapa harus mendapatkan pekerjaan yang seperti itu? Ya, memang harus anjai! Kalian tahu atau tidak, apa yang menyebabkan gaji di Jogja selalu rendah? Ya, apalagi kalau bukan karena harga pasar upah mereka memang rendah. Para pengusaha dan perusahaan selama ini telah mendapatkan kesimpulan bahwa masyarakat kota ini memiliki jiwa nerimo (menerima apapun yang terjadi) dan mau menerima upah berapun. What the hell about it all. Kalian akan selalu dinilai orang lain dengan harga yang rendah jika kalian juga tidak menghargai diri kalian sendiri. Menurutku, berprinsip "hanya mau dibayar dengan upah yang sesuai" adalah sebuah cara agar gaji di jogja perlahan ikut naik dan para pengusaha serta perusahaan menjadi lebih menghargai masyarakat Jogja. Semakin sulit perusahaan mendapatkan karyawan yang mau digaji rendah, mereka akan berpikir bahwa memang perlu menaikkan nominal gaji yang ditawarkan ketika membuka lowongan pekerjaan.
Tapi apalah dayaku, paragraf di atas hanya sebuah ide yang rumit. Karena pada dasarnya kita tidak akan mendapatkan uang ketika tidak bekerja, yang mana mau ngga mau ya harus kerja. Tapiiiii, lowongan-lowongan kerja yang ada selalu menawarkan gaji yang ngga manusiawi. Kan anjing juga, bisa apa kita sebagai orang miskin?
Perusahaan budidaya hidroponik.
Setelah berminggu-minggu lamanya aku mencari lowongan pekerjaan melalui facebook, instagram, jobstreet, glints, dan pintarnya, akhirnya aku menemukan satu perusahaan yang kebetulan langsung mempersilakan aku untuk ikut training (yang mana kemungkinan besar nanti setelah training aku langsung mendapatkan kontrak kerja).
Dari sekian banyak tempat kerja, aku menemukan beberapa hal agak aneh tapi menarik di perusahaan ini, di sisi lain ya membuat nyaman pegawai-pegawai yang bekerja di situ juga sih.
Nama perusahaan tempatku bekerja sekarang adalah CV Goodplant Indonesia. Perusahaan yang bergerak dalam segala hal yang berkaitan dengan hidroponik. Perusahaan ini tidak berfokus di penjualan hasil panennya, karena hasil panen hanya dibagi-bagikan ke pondok pesantren terdekat. Perusahaan ini mendapatkan uang dari menjual benih, pupuk, nutrisi hidroponik, pelatihan, dan pendampingan proses pembibitan hingga masa panen.
Sisi unik dari perusahaan ini adalah peraturan, kebiasaan, dan lingkungan kerjanya. Dibranding dengan "lingkungan kerja yang islami." Jam kerja dimulai dari pukul 8 pagi dan selesai pada pukul 4 sore.
08.00 - 08.20 | Salat duha 8 rakaat & hajat 2 rakaat.
08.20 - 08.30 | Baca Al-Quran.
08.30 - 09.00 | Briefing harian.
09.00 - 11.45 | Kerja.
11.45 - 13.00 | Salat duhur & istirahat.
13.00 - 14.45 | Kerja.
14.45 - 15.30 | Salat asar.
15.30 - 16.00 | Kerja
16.00 | Pulang
Prinsip dari perusahaan ini ibadah adalah hal nomor satu di kehidupan, apapun pekerjaannya waktu salat harus didahulukan. Begitu pertama kali aku dijelaskan hal ini, aku menjadi ingat betapa sudah sejauh ini hidupku dari agama. Berawal dari pengalaman magang yang tidak pernah melaksanakan salat duhur dan asar karena merasa aman-aman aja melihat orang lain sama-sama tidak melakukan salat, hingga setelah selesai magang dari tempat itu aku jadi memiliki kebiasaan baru berupa tidak merasa khawatir ketika tidak melaksanakan salat. Mungkin ini cara Allah mengingatkanku bahwa aku sudah terlalu jauh dari Dia. Dan, yaps. Gaji di perusahaan ini memenuhi ketentuan Upah Minimum Regional seperti yang aku inginkan.
Ngemplak, 13 Februari 2026