10of30Days #3 — Mengenai Overthinking di Usia Dewasa Oktober 03, 2025
Overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, sering kali melibatkan analisis berulang-ulang yang justru membuat seseorang merasa cemas, bingung, atau tidak produktif. Demikian jawab OpenAI tentang pertanyaanku mengenai definisi overthinking.
Kalian mengalami fase di mana hidup penuh dengan overthinking di umur berapa? Aku mengalaminya baru-baru ini, belum lama. Sekitar di umur 21 tahun.
Setiap orang memiliki overthinkingnya masing-masing sesuai dengan gender, lingkungan dan latar belakang keluarganya. Overthinkingnya berbeda-beda. Akupun begitu, memiliki rasa gelisah dan cemas yang berlebih dengan aku dan keadaanku di masa depan mendatang. Oh iya, umurku sekarang adalah 22 tahun.
Pertama, tentang menikah. Idealnya usia menikah laki-laki untuk bisa dibilang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua itu berapa sih? Mungkin 27, 28 atau 29 tahun. Katakanlah aku akan menikah di umur 28 tahun, berarti masih tersisa waktu 6 tahun. Umumnya biaya paket acara dari awal prosesi pernikahan hingga selesai anggaplah 150 juta. Untuk mencapai uang 150 juta dalam waktu 6 tahun, maka aku harus menabung 2 juta rupiah setiap bulan. Kira-kira harus kerja apa tuh kalau aku harus menabung 2 juta setiap bulan? Di Jogja aja UMK cuma di angka 2,2 juta rupiah. Sisa 200 ribu doang dong, buat bensin sebulan aja masih kurang bro!
Kedua, membahagiakan orangtua. Sebagai bentuk pesan untuk disampaikan kepada kedua orangtua bahwa mereka itu telah sukses mendidik dan membesarkan kita dari sejak lahir di bumi ini hingga sekarang. Definisi membahagiakan orangtua itu banyak, tergantung cara berpikir setiap orang tersebut. Dan tentunya tidak akan lepas dari kata uang kan. Contoh: sebagai tanda bakti dan balas budi karena kita sudah dirawat, disayang, dan dibiayai dalam segala kebutuhan hidup, mungkin kita perlu juga memberi hadiah sebagai simbol kesuksesan orangtua dalam membesarkan kita atau bisa juga dalam bentuk membantu menstabilkan ekonomi keluarga yang telah terombang-ambingkan karena repot membiayai kita sejak kecil. Uang lagi, uang lagi, uang lagi.
Ketiga, kestabilan finansial pribadi baik sebelum menikah ataupun sesudah menikah. Tentunya tak ada seorang lelaki pun yang mau membawa kekasihnya ke dalam hidup yang rumit, berantakan dan serba kekurangan karena menikah dalam keadaan tidak siap. Siap di sini memuat dalam banyak sekali hal. Contoh kecilnya: siap secara mental kepala keluarga dan siap secara finansial. Masa sih, kita mau hubungan pernikahan yang dikit-dikit berseteru, tidak akur, tidak bisa saling memahami, dan mudah mengatakan cerai. Tidak kan? Masa sih, kita mau membawa pasangan hidup kita di kehidupan yang penuh cicilan dan tidak mampu mencukupi nafkah untuk berdua. Tidak juga kan?
Kira-kira untuk mencukupi kebutuhan biaya prosesi menikah, mebahagiakan orangtua dan mengusahakan stabil finansial pribadi aku harus kerja di mana ya? Harus nabung berjuta-juta tiap bulan ini mah, satt satt.
Perhitunganku di atas itu tadi pun belum dihitung kalau aku ingin beli kebutuhan pribadiku dalam setiap tahunnya loh. Beli sepeda motor, smartphone, laptop untuk kerja, dan masih banyakkkkk lagi.
Sleman, 22 Januari 2025